phone: +420 776 223 443
e-mail: support@londoncreative.co.uk

Rabu, 27 Mei 2015

Pembuang Sampah Mulai Disidang






JAKARTA, KOMPAS.com — Diam-diam, ternyata petugas satpol PP sudah mulai bertugas mengawasi dan menangkap basah para pembuang sampah. Para pelakunya pun sampai menjalani sidang yustisi.

Hal ini sudah dilakukan di seluruh wilayah Jakarta Selatan. Sebanyak 86 orang terjaring dari 10 kecamatan. Mereka menjalani sidang yustisi di kantor Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Kamis (12/12/2013) kemarin.

Yusuf (35), warga Cipete Utara, Cilandak, Jakarta Selatan, menjadi salah seorang yang menjalani sidang yustisi tersebut. Dia mengaku bersalah karena sudah membuang sampah sembarangan.

"Tadinya mau berangkat kerja, eh inget kalau sidangnya sekarang (kemarin). Ini kejadiannya sekitar dua minggu kemarin, gara-gara buang plastik sembarangan di sekitar Pasar Blok A, eh tiba-tiba ditangkap satpol PP, KTP langsung disita," ujarnya sambil tertawa.

Cerita yang sama pun dilontarkan Imam (36), warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Ia juga mengaku tertangkap basah saat buang sampah sembarangan di dekat Pasar Tebet. Imam harus membayar Rp 50.000 berdasarkan keputusan hakim.

"Enggak apa-apa deh hilang Rp 50.000. Tapi, emang harus begini. Kalau enggak, mana bisa orang teratur? Tapi, kalau usul saya sih jangan cuma di tempat-tempat umum kayak pasar sama terminal saja yang dijaga, tapi di rumah-rumah pinggir kali juga. Soalnya itu yang buang sampah sembarangan tiap hari," ujar pria berkulit sawo matang itu.

Saat sidang berlangsung, tidak semuanya menerima denda yang diberikan hakim. Beberapa orang merasa keberatan, khususnya para ibu-ibu rumah tangga. Menurut mereka, denda terbilang besar. "Ya kalau tahu begini ogah deh buang sampah sembarangan lagi. Mahal banget," celetuk Marni (46), warga Pancoran, Jakarta Selatan.

Langkah berat

Kasatpol PP Jakarta Selatan Sulistiarto mengatakan, sidang yang digelar oleh Pemkot Jakarta Selatan tersebut memutuskan sanksi perdata kepada sebanyak 86 orang warga yang tertangkap basah dan berhasil diamankan oleh Satpol PP Jakarta Selatan.

"Ada yang ketangkap basah petugas karena buang sampah sembarangan. Tapi, ada juga yang kita nilai enggak peduli kebersihan, seperti warung yang enggak menyediakan tempat sampah dan membiarkan sampah dagangannya berserakan, ikut kita tertibkan," ungkapnya.

Namun, ungkapnya, dari sebanyak 86 orang pelanggar yang dipanggil kemarin, hanya 57 orang yang hadir di persidangan. Sisanya, 29 orang, mangkir. "Walaupun enggak hadir, kita akan tetap proses dengan verstek. Warga akan diundang dan diproses di kelurahannya masing-masing," jelasnya.

Sesuai dengan Perda No 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah, denda maksimal Rp 100.000. Namun, pada sidang tersebut, hakim belum menerapkan denda maksimal karena masih dalam tahap sosialisasi masyarakat.

"Tapi, kalau sudah aktif tahun 2014 besok, bukan cuma denda administratif ataupun sanksi sosial saja, tapi pembayaran uang paksa juga akan diterapkan," jelasnya.

Dia mengatakan, uang paksa lebih tinggi dari jumlah denda maksimal yang besarannya mencapai Rp 500.000. (m16)

Mencicil Sampah, Bisa untuk Pinjam Uang dan Bayar Listrik...


KOMPAS.com - Umumnya orang menganggap sampah sebagai benda yang merepotkan sekaligus menjijikkan. Namun, tidak demikian halnya bagi orang-orang kreatif. Di tangan warga RT 001 RW 001, Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, sampah malah menjadi sumber berkah.
Sampah yang sudah diolah dari sumbernya atau rumah tangga dapat menjadi tabungan bagi warga. Dengan sampah itu pula warga bisa meminjam uang dalam kondisi darurat.
Ketua Umum Bank Sampah Gawe Rukun RT 001 RW 001, Kelurahan Kunciran, Supadmi (48) mengatakan, pembagian hasil tabungan sampah warga yang tercatat sebagai anggota dilakukan setiap kali menjelang Lebaran. Hal itu berdasarkan kesepakatan bersama dari anggota. Akan tetapi, warga yang memiliki kebutuhan sangat mendesak bisa meminjam uang dari tabungannya.
Proses menabung sampah diawali dengan cara warga menyetorkan sampah yang sudah diolah kepada pengurus. Selanjutnya, sampah ditimbang, lalu diperoleh besaran nilai uang sampah yang ditabung. Rata-rata dalam sebulan hasil dari pengumpulan sampah antara Rp 2 juta dan Rp 4 juta.
Dari uang sampah tersebut pengurus hanya menerima 10 persen untuk kas lembaga dan upah bagi pengurus. Uang kas itu sebagai dana simpan-pinjam, dan biasanya kelebihan dana tersebut akan dibagikan sebagai bonus kepada anggotanya. Dari kas itu, anggota bisa meminjam uang dalam keadaan mendesak dan darurat, seperti kematian dan kelahiran.
Supadmi menjelaskan, saat ini pihaknya berencana menjalin kerja sama dengan PT PLN untuk menggunakan sampah sebagai alat pembayaran tagihan listrik. Uang tabungan sampah dapat digunakan untuk membayar listrik.
Tidak hanya kemudahan itu, dari hasil mengolah sampah dari sumbernya atau rumah tangga, tempat tinggal warga juga menjadi hijau, asri, dan bersih. Situasi ini terlihat saat Kompas menelusuri gang sempit RT 001 RW 001, Sabtu (13/9/2014) siang.
Gang itu tampak hijau, asri, dan bersih. Meski bangunan rumah berdiri di atas lahan sempit dan nyaris tak tersisa lahan kosong, warga tetap antusias menanam tanaman hias. Jejeran pot tertata rapi di dekat pagar rumah.
Penghijauan yang dilakukan itu merupakan hasil dari upaya warga mengolah sampah basah menjadi kompos atau pupuk. Kompos yang diolah selama tiga bulan tersebut dibagikan buat anggota, yakni warga setempat.
Menular
Bank Sampah Gawe Rukun dibangun oleh warga sejak pertengahan tahun 2011. Hal itu merupakan prakarsa dari Tukidi (49), pegawai koperasi yang juga suami Supadmi.
Dibantu pengurus RT setempat, suami istri ini membangun bank sampah. Mereka memanfaatkan lahan kosong di samping rumah mereka sebagai lokasi tempat pengolahan sampah. Lahan kosong itu tadinya sudah dipatok untuk dibanguni beberapa unit rumah kontrakan.
”Awalnya, tempat kami merupakan daerah banjir. Kotor karena sampah menumpuk. RT kami ini sering telantar dan segala keluhan kami tidak pernah ditanggapi. Muncullah ide membangun bank sampah,” papar Supadmi.
Tiga bulan setelah berdiri, pimpinan Gawe Rukun mendatangi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang. Gayung bersambut. Sejak itu, bank sampah yang dikelola secara swadaya ini menjadi binaan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang.
Perilaku mencintai sampah ini menular hingga ke RW lainnya di sekitar kelurahan itu. Sebanyak 9 dari 15 RW yang ada di kelurahan itu sudah membentuk bank sampah di wilayah masing-masing setelah menjadi anggota koperasi.
Supadmi mengatakan, dalam mengolah sampah, mereka menerapkan konsep pengelolaan sampah secara reduce, reuse, dan recycle (3R). Bank sampah dihadirkan untuk mendidik dan membantu masyarakat mengolah keuangan dan lingkungan.
Lingkungan menjadi bersih karena warga terbiasa memilah sampah kering (anorganik) dan sampah basah (organik). Sampah basah, seperti sisa makanan dan potongan sayur/buah, dikumpulkan di tong pembuat kompos bantuan pemerintah kota yang ditempatkan satu tong untuk tiap dua rumah.
Sampah kering berupa kertas, plastik, seng, besi, aluminium, dan botol/kaca, dipisah untuk dikirim ke tempat kumpul di RT. Setiap dua pekan, sampah anorganik dikirim ke unit untuk ditimbang dan dihitung harganya.
Ada 17 jenis klasifikasi sampah di Gawe Rukun. Setiap jenis dihargai tersendiri. Hasil penjualan sampah dimasukkan ke buku tabungan. Tabungan hanya bisa diambil menjelang Lebaran. Ini sudah kesepakatan bersama anggota.
Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang Ivan Yulianto menyebutkan, ada sekitar 300 bank sampah yang sudah terbangun dari 1.000 bank sampah yang direncanakan.
Dalam mengatasi 1.000 ton sampah yang dihasilkan warga setiap hari, kata Ivan, pihaknya juga melibatkan orang muda untuk membangun kampung bersih. Selain itu, diluncurkan juga program Tangerang Bersih dan Tangerang Jempol.
Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan, penanganan sampah memerlukan perhatian semua pihak, termasuk kesadaran warga. Langkah ini juga mengoptimalkan proses mereduksi jumlah sampah yang harus diangkut ke TPA Rawa Kucing. Sampah teratasi, masyarakat pun hidup sehat dan mendapat tambahan pendapatan.

(Pingkan Elita Dundu)

Mantan Polisi "Banting Setir" Jadi Bos Barang Rongsokan Beromzet Miliaran Rupiah

KOMPAS.com/Muhamad Syahri Romdhon H. Kusyono, (berpeci), adalah mantan petugas Polres Cirebon, yang pensiun dini, dan berhasil menjadi bos rongsok beromset milyaran rupiah. Ia adalah satu dari puluhan pengusaha rongsok yang sukses di sekitar Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon


KOMPAS.com — Seragam kebesaran Korps Bhayangkara sudah dia tanggalkan. Topi dan pangkat Aiptu yang menempel di pundak pun sudah tersimpan rapi. Dia tak lagi pergi ngantor dan melayani berbagai pengaduan dari masyarakat.

Dia justru mengenakan kaus oblong dan celana sederhana. Bukan untuk ke kantor, melainkan ke gudang untuk mengorek gunungan barang bekas yang kotor, berkarat, dan berbau busuk. Namun, siapa sangka, pekerjaannya ini membuat dia dikenal sebagai mantan polisi yang sukses menjadi bos barang rongsokan beromzet miliaran rupiah per bulan.

Iya, dialah Haji Kusyono, warga Desa Panguragan Wetan, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Dia adalah satu dari ratusan warga sekitar yang kesehariannya hidup dengan tumpukan barang-barang bekas, mengumpulkan dari banyak orang, menyortir, dan kemudian mengirimkan ke berbagai pabrik dan perusahaan besar di Jakarta dan daerah lainnya.

Perpindahan haluan pekerjaan Kusyono ini terjadi pada sekitar 2000 silam. Kusyono sebelumnya dikenal sebagai salah satu anggota Kepolisian Resor Cirebon. Berpangkat Aiptu, Kusyono bertugas menjadi Kepala Unit Pembinaan Masyarakat (Binmas) dan Humas Polsek Panguragan.

Dalam menjalankan tugasnya, Kusyono bersentuhan langsung dengan masyarakat sekitar. Ia pelajari dan perlahan mulai mencoba mengikuti usaha barang rongsokan kecil-kecilan pada 1990. Sambil menjalankan tugasnya sebagai pelayan masyarakat, Kusyono terus meningkatkan modal pembelian barang rongsokan.

"Saya coba membeli dan mengumpulkan barang rongsokan hanya sedikit pada 1990. Tetapi, hampir setiap mendapatkan gaji bulanan (sebagai polisi–red), sekitar tiga juta rupiah, modal pembelian barang rongsokan terus saya tambahkan. Sampai akhirnya, saya beranikan diri pensiun dini pada usia ke-49 pada tahun 2000," kata Kusyono saat ditemui, Jumat, (10/4/2015).

Awalnya, Kusyono hanya memiliki enam karyawan, yang mengambil barang rongsokan dari wilayah Cirebon dan menjualnya ke Jakarta. Karena kegigihannya melihat potensi dan kelihaiannya mengatur modal, akhirnya usaha Kusyono berkembang pesat hingga ia memiliki sekitar 100 karyawan.

Pada masa keemasannya, sekitar tahun 2000, ia mampu mengeluarkan modal sekitar Rp 50 juta hingga Rp 100 juta untuk membeli 20 hingga 50 ton barang rongsokan dalam satu hari. Dari puluhan ton barang bekas jenis besi, kaleng, dan berbagai bahan dari wilayah III Cirebon ini, Kusyono dapat mengantongi omzet sekitar Rp 80 juta hingga Rp 120 juta per hari.

"Kalau lagi ramai dan dibutuhkan pabrik, saya bisa kirim sampai 50 ton lebih dalam satu hari. Untungnya cukup besar, sampai Rp 120 juta. Kalau waktunya pulang, saya langsung bayar gaji karyawan sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000, bergantung pekerjaannya," kata dia.

Keberhasilan Kusyono juga terukur dari jumlah luas gudang yang ia miliki. Kini Kusyono memilki sekitar 7 gudang barang rongsokan, 10 rumah megah, 6 hektar sawah, dan beberapa kendaraan. Dia juga sudah beberapa kali menunaikan ibadah haji sekaligus memberangkatkan keluarganya.

Sumber mata pencaharian

Bagi sebagian orang, barang rongsokan kotor, berkarat, dan berbau busuk mungkin dirasa menjijikkan. Namun, di tangan mereka, ribuan ton barang rongsokan jenis kaleng, besi, plastik, kaca, hingga kardus, justru menjadi sumber kehidupan utama.

Sejak matahari terbit, satu per satu warga sudah mendatangi gudang-gudang barang rongsokan yang berjejer di sepanjang kanan-kiri jalan Desa Panguragan. Meski masih perkampungan, hampir sudah tidak ada lagi udara segar lantaran terkontaminasi aroma barang rongsokan yang berceceran ke jalanan lantaran gudang sudah tak menampung lagi.

Cukup dengan pakaian sederhana, sarung tangan, sepatu, dan helm menjadi alat paling aman bagi para pengorek barang rongsokan ini. Mereka menyortir barang rongsokan berjenis kaleng, besi, kardus, untuk dimasukkan ke dalam bagiannya masing-masing.

Setelah terkumpul, barang rongsokan berjenis kaleng, mereka masukkan ke dalam truk kontainer hingga semua bak kontainer terisi kaleng bekas. Tiap kontainer yang berisi kaleng, besi, dan barang rongsokan lainnya, mereka kirim ke pabrik besar di wilayah Jakarta, Tangerang, Surabaya, dan sejumlah daerah lainya.

Kandeg adalah satu dari ribuan warga desa setempat yang berprofesi sebagai pengorek dan penyortir barang rongsokan. Ia sudah tiga tahun lebih berkerja di tempat yang kotor dan bau. Dia merasa lebih senang dengan pekerjaan yang dia geluti sekarang ketimbang jadi sopir angkot yang sebelumnya ia geluti.

"Lumayan, hasil kerja jadi tukang rongsok dapat mencukupi keluarga kami. Gajinya pun cukup tinggi dari sopir angkot. Dulu saya hanya dapat mengumpukan Rp 500.000 dalam satu bulan dan habis untuk sehari-hari. Tapi, jadi tukang rongsok, saya dapat kumpulkan lebih dari Rp 1 juta dalam sebulan karena makan sehari-hari kadang dibelikan bos," ujarnya.

Namun, satu hal yang tak bolah Kandeg lupakan, yakni berbobat dan check up setiap satu minggu sekali untuk menjaga kondisi kesehatan dirinya.

Banyaknya pengusaha barang rongsokan kelas kecil, menengah, hingga skala besar menjadikan Desa Panguragan dijuluki "Kampung Rongsokan". Dari barang-barang yang dianggap tak bernilai inilah, ratusan jiwa manusia di desa ini terus bertahan hidup.

Bahkan, bisa jadi, barang elektronik atau semua perabot rumah yang Anda miliki berasal dari barang bekas ini yang sudah berhasil didaur ulang dan menjadi barang-barang tertentu.

Warga Talaga Hirup Udara Limbah Berbau


Masalah pembuangan limbah membuat resah warga Kampung Talaga Kocok RT 03 dan RT 04 RW 03 Desa Talaga Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang.
Mereka merasakan dampak negatif limbah milik PT FNP, pabrik yang memproduksi berbagai jenis minuman ringan dengan merek terkenal.
Suhaemi (50), kepala RW 03 Desa Talaga menyatakan pencemaran terjadi selama satu bulan terakhir. Awalnya PT FNP meminta izin kepada warga untuk membuat saluran selebar satu meter yang melintasi kampungnya dengan tujuan pusat pembuangan limbah yang juga ada di sekitar desa Talaga.
Setelah saluran dibuat, pabrik selanjutnya mulai mengalirkan limbahnya melewati kampung Talaga Kocok. Rata-rata pembuangan limbah dilakukan pada malam hari.
Limbah cair yang dibuang memicu persoalan lingkungan serius di kalangan warga sekitar karena berwarna hitam pekat dan berbau busuk. Menurut Suhaemi, pada pagi dan sore hari warga kesulitan bernafas karena harus menghirup bau busuk limbah cair yang warnanya selalu berubah-ubah itu.
Selain itu, warga Kampung Talaga juga curiga limbah tersebut telah mencemari air sumur. Air sumur milik warga kini telah berubah warna menjadi keruh dan berbau seperti sampah. Jika digunakan mandi, maka badan terasa gatal-gatal.
“Warga Talaga Kocok sudah sangat terganggu dengan bau yang busuk limbah dan udara yang menyesakkan dada. Kami minta pihak perusahaan meninjau keadaan limbahnya dan berharap pemerintah untuk mengatasi masalah limbah ini,”ujarnya saat ditemui di lokasi saluran limbah, kemarin siang.
Madro’i, tokoh masyarakat Kampung Talaga Kocok menjelaskan warga sudah melakukan komplain kepada pihak perusahaan terkait limbah tersebut. Tapi pihak perusahaan terkesan acuh karena tidak menemui perwakilan warga sekitar.
“Saya berharap ada perhatian dari pemerintah atas aliran limbah di sini dan berharap agar aliran sungai sini segera diatasi. Kalau perlu saluran ini ditutup jangan sampai lewat aliran galian sungai ini,”ujarnya.
Suryadi, Ketua RT 03 RW 03 Desa Talaga Kecamatan Cikupa menambahkan warganya yang menyampaikan keluhannya mengenai limbah pabrik tersebut. Apalagi, pabrik tersebut juga tidak memberi kontribusi positif bagi warga sekitar. Tak ada warga Kampung Talaga Kocok yang direkrut menjadi tenaga kerja.
“Saya berharap warga bersabar mengatasi masalah limbah ini dan berharap adanya tindakan dari pemerintah tentang masalah limbah tersebut,”tandasnya. (mg26/gatot/satelitnews)